Pengunjung Dilarang Masuk karena Belahan Dada, 20 Aktivis Ini Protes secara "Topless"
Pengunjung Dilarang Masuk karena Belahan Dada, 20 Aktivis Ini Protes secara "Topless"
Aksi Protes dengan telanjang dada dilakukan oleh sebanyak 20 aktivis perempuan di Museum Perancis.
Aksi protes tersebut dilakukan usai viralnya kisah pengunjung perempuan yang ditolak masuk Museum karena pakaiannya menunjukkan belahan dada.
Sekitar 20 anggota organisasi FEMEN menggelar demonstrasi dengan kalimat di tubuh mereka yang berbunyi "payudara mereka bukanlah hal cabul".
Puluhan perempuan itu melakukan aksi pada Minggu (13/9/2020) sebagai bentuk dukungan atas insiden yang terjadi di Museum Musee d'Orsay, Paris.
Para peserta aksi mengungkapkan dukungan bagi Jeanne, seorang perempuan yang dilarang masuk karena dia berpakaian yang memperlihatkan belahan dada.
"Sekitar 20 aktivis FEMEN Perancis menggelar tur topless di Musee Orsay pada hari ini (Minggu)," ujar kelompok itu dalam kicauan di Twitter.
Mereka mengunggah foto-foto aksi di Twitter disertai keterangan bahwa "cabul hanya bisa terjadi jika kalian menganggapnya demikian".
"Stop jadikan tubuh perempuan sebagai obyek seksualitas," tegas FEMEN dalam kicauannya sebagaimana dilansir Daily Mirror Selasa (15/9/2020).
Para aktivis itu menekankan, area dada bukanlah sebuah obyek cabul dan mendukung setiap perempuan yang menjadi korban diskriminasi seksis.
Mereka merespons surat terbuka yang dilayangkan Jeanne, di mana dia merasa "didiskriminasi" oleh pihak keamanan yang melarangnya masuk.
Museum Paris Minta Maaf
Museum seni Musee d'Orsay adalah satu daya tarik wisata terbesar di Paris yang memiliki beberapa lukisan telanjang paling terkenal dari abad ke-19 Perancis.
Tetapi ketika mahasiswa sastra Perancis, Jeanne, berkunjung dengan mengenakan gaun dengan bagian belahan dada yang tampak terbuka pada saat cuaca panas hari itu, dia dilarang masuk.
Staf Museum mengatakan kepada Jeanne bahwa "aturan adalah aturan".
Pihak Museum akhirnya mengizinkan masuk ketika dirinya mengenakan jaket, jelas Jeanne.
Kisah Jeanne menjadi viral di media sosial dan pihak museum telah meminta maaf.
Jeanne mengunggah foto dirinya saat berpose di sebuah restoran empat jam sebelum mengunjungi Museum itu bersama seorang teman.
Dia menggambarkan bagaimana seorang pejabat di museum itu menatap payudaranya tetapi tidak mengatakan aturan mana yang ia langgar.
Suhu di Perancis mencapai 26 derajat celsius pada Selasa (8/9/2020), dan Jeanne, seorang mahasiswa sastra pecinta seni, menceritakan keinginannya untuk berkunjung ke Musee d'Orsay.
"Jauh dari pikiran saya bahwa belahan dada saya akan menjadi subjek perselisihan pendapat," katanya.
Meskipun temannya mengenakan baju yang menunjukkan pusarnya, Jeanne mengatakan perhatian tertuju pada payudaranya bahkan sebelum dia sempat menunjukkan tiketnya.
"Oh tidak, itu tidak akan mungkin, itu tidak diperbolehkan, itu tidak dapat diterima," katanya mengutip seorang agen tiket.
Seorang penjaga kemudian tiba dan mengutip aturan museum, tambahnya.
"Tidak pernah ada yang mengatakan belahan dadaku adalah masalah, mereka dengan nyata menatap payudaraku, sambil menyebutnya sebagai 'itu'.
Awalnya dia menolak untuk memakai jaketnya.
"Saya tidak ingin mengenakan jaket saya karena saya merasa dikalahkan, dipaksa, saya malu. Saya merasa semua orang melihat payudara saya. Saya hanya sebatas payudara saya saja; saya hanyalah seorang wanita yang mereka seksualkan."
Permintaan maaf museum Ketika unggahan Twitter Jeanne menjadi viral.
Museum kemudian menanggapi dan mengatakan bahwa mereka telah mengetahui tentang sebuah "insiden" yang melibatkan seorang pengunjung.
"Kami sangat menyesalinya dan meminta maaf kepada orang yang terlibat, yang kami juga akan menghubunginya," katanya.
Jeanne mengatakan kepada BBC bahwa dia puas bahwa pihak museum "menghubungi saya secara pribadi melalui telepon dan sangat perhatian, memberikan permintaan maaf yang sangat tulus".
Namun, dia merasa tanggapan publik museum itu di Twitter "gagal untuk mengidentifikasi sifat seksisme dan diskriminasi dari kejadian tersebut".
Dia tidak menuturkan kebencian tentang apa yang terjadi dan terlalu mencintai seni untuk menolak mengunjungi Museum itu kembali.
Hal yang tidak jelas adalah aturan Museum yang mana.
Surat kabar Liberation mengulas beberapa peraturan yang mengacu pada "pakaian yang layak" dan larangan pakaian "yang kemungkinan besar akan mengganggu ketenangan".
Tetapi mempercayai bahwa pihak Museum dengan jelas menyadari bahwa peraturan tersebut tidak relevan dalam kasus ini.
Pembahasan di museum adalah tentang petugas yang "terlalu bersemangat", menurut situs web Le Parisien.
Bagaimanapun, Museum ini adalah salah satu tujuan wisata favorit di Paris yang punya koleksi sejumlah lukisan telanjang yang terkanal di dunia.
Seperti, Origin of the World karya Gustave Courbet, Olympia oleh Edouard Manet, dan Grand nu oleh Auguste Renoir.
(Sumber : Tribunnews.com)
